Desa Samangki
Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros
SEJARAH KARAENG TALLASA: JEJAK PERADABAN DI DUSUN TALLASA BARU

SEJARAH KARAENG TALLASA: JEJAK PERADABAN DI DUSUN TALLASA BARU
Situs Karaeng Tallasa yang terletak di Dusun Tallasa Baru, Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, menjadi bukti bahwa ratusan tahun lalu telah ada peradaban manusia yang menetap di wilayah ini. Keberadaan situs ini tidak hanya mengisahkan sejarah masa lalu tetapi juga menjadi bagian dari identitas keturunan Karaeng Tallasa yang hingga kini masih bermukim di daerah tersebut.
Menurut cerita turun-temurun dari para tetua setempat, nama Tallasa berasal dari kata yang berarti "hidup." Nama Karaeng Tallasa sendiri bahkan tercatat dalam sejarah Belanda dengan sebutan Regen van Tallasa, yang disebutkan dalam dokumen dari tahun 1500-an. Jika dibandingkan dengan pembagian administratif saat ini, Kerajaan Tallasa dahulu memiliki wilayah yang setara dengan satu kabupaten, menjadikannya lebih tua daripada Kabupaten Maros yang ada sekarang.
Asal-usul nama Tallasa memiliki beberapa versi yang berkembang di masyarakat. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Karaeng Tallasa, setiap orang yang memasuki wilayah ini dalam keadaan kesulitan atau masalah akan diberikan perlindungan dan kesempatan untuk hidup lebih baik. Dari sinilah muncul istilah "di-tallasi," yang berarti "dihidupkan kembali" atau "diberi keselamatan."
Dalam catatan sejarah, Tallasa berada di perbatasan antara Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa, yang pada masa itu sering berperang. Namun, wilayah Tallasa dikenal sebagai tempat yang netral dan memberikan perlindungan bagi siapa pun yang datang. Oleh karena itu, Kerajaan Karaeng Tallasa sering dikaitkan dengan makna "tanah perlindungan" bagi mereka yang mencari keselamatan dari peperangan.
Pendapat lain menyatakan bahwa Tallasa dahulu merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Bone. Dalam sebuah pertempuran besar antara pasukan Bone dan Gowa, prajurit dari Tallasa dikisahkan tidak mengalami korban jiwa sama sekali. Karena kejadian luar biasa itu, wilayah ini kemudian dinamakan Tallasa, yang melambangkan keabadian dan keselamatan.
Selain itu, ada juga versi yang mengatakan bahwa Karaeng Tallasa adalah keturunan dari raja Bone dan ibunya berasal dari Kerajaan Gowa. Pada masa itu, seorang pemimpin yang bijaksana dan berilmu tinggi dipercaya datang ke Tallasa dan menetap di sana sebagai pemimpin atau raja. Wilayah ini pun menjadi tempat persinggahan yang strategis dalam perjalanan antara Bone dan Gowa.
Salah satu kisah menarik tentang Karaeng Tallasa adalah mengenai situs yang kini dianggap sebagai makamnya. Menurut cerita yang berkembang, Karaeng Tallasa tidak benar-benar dimakamkan di lokasi tersebut. Sebaliknya, ia dikisahkan hanya menancapkan tongkatnya di tempat itu sambil berdoa. Doanya dipercaya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, sehingga tempat tersebut hingga kini dianggap sebagai lokasi yang sakral. Karaeng Tallasa pun berpesan bahwa siapa pun yang ingin berdoa dapat datang ke tempat itu, karena doa-doa di sana diyakini akan diterima.
Seiring berjalannya waktu, sebagian masyarakat menganggap situs tersebut sebagai makam Karaeng Tallasa. Namun, ada berbagai versi mengenai sejarah ini, dan tidak ada satu pun yang bisa dipastikan kebenarannya secara mutlak.
Selain itu, ada juga kaitan menarik antara Tallasa dan sejarah Tanrang. Berdasarkan cerita lisan, pada masa lalu, wilayah Tallasa adalah daerah perbukitan, sedangkan bagian bawahnya merupakan laut. Tawanan perang atau orang-orang yang melewati wilayah ini akan ditandai sebelum dibawa ke daerah yang kini dikenal sebagai Tanrang. Kata "Tanrang" diduga berasal dari bahasa Bugis, yaitu "tanrang", yang berarti "ditandai." Orang-orang yang sudah ditandai kemudian akan dibawa ke tempat eksekusi, yang konon berada di daerah yang sekarang disebut Gentungan.
Meskipun berbagai versi sejarah berkembang di masyarakat, keberadaan situs Karaeng Tallasa tetap menjadi bukti penting dari perjalanan panjang peradaban di wilayah ini. Hingga kini, situs tersebut masih dijaga dan dihormati oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus terus dilestarikan.


